Berita

SIARAN PERS BERSAMA | Mendag dan Dubes Uni Eropa Tunjukkan Kolaborasi Kuat Promosikan Kopi Indonesia di Pasar Eropa

Jakarta, 21 September 2020 – Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) menyelenggarakan “Indonesia Coffee Week” pada 17-25 September 2020. Bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (Ditjen Kekayaan Intelektual) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) dan program ARISE+ Indonesia, Ditjen PEN juga akan menyelenggarakan webinar dengan tema “Mendekati Musim Panen Oktober: A Webinar tentang Keterkaitan Pasar Kopi Arabika Gayo PGI yang Dapat Dilacak ke Pasar UE”. Rangkaian acara ini bertujuan untuk mempromosikan dan meningkatkan kesadaran IG sebagai komponen penting dalam meningkatkan ekspor melalui strategi pengembangan branding, pengembangan potensi pariwisata dan produk Indikasi Geografis (IG) Indonesia.

Puncak dari webinar Indonesia Coffee Week dan Virtual Buyers Mission (VBM) akan menjadi acara mencicipi kopi dan memanggang kopi di Nusantara Coffee House Café yang dihadiri oleh Menteri dan Wakil Menteri Perdagangan serta Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam. Acara tersebut juga akan disaksikan secara virtual oleh seluruh pejabat Eselon 1 Kementerian Perdagangan, Ditjen Dikti Kementerian Hukum dan HAM, beberapa Duta Besar RI di Eropa, Bupati di wilayah Aceh, petani kopi MPKG dan pembeli dari Eropa, yang menampilkan full dukungan Kementerian Perdagangan dan Uni Eropa untuk promosi Kopi Gayo di pasar Eropa.

Mendag Agus Suparmanto mengatakan “Kerjasama dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan seperti saat ini memberikan harapan baru dalam meningkatkan ekspor kopi, terutama indikasi geografis, melalui pengembangan strategi terpadu menuju pasar tujuan ekspor di tengah tekanan krisis global saat ini”. Agus menambahkan, dukungan program ARISE+ Indonesia yang didanai EU merupakan aset berharga bagi pengembangan ekspor Indonesia, tidak hanya kopi, tetapi produk lain yang dapat dikembangkan dalam kerjasama ini, pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, H.E Vincent Piket, mengatakan, “Perlindungan indikasi geografis penting secara ekonomi dan budaya, karena membantu menciptakan nilai bagi masyarakat lokal melalui produk yang berakar kuat dalam tradisi. , budaya dan geografi. UE bangga memiliki sistem GI yang kuat dan mendukung perlindungan GI di Indonesia. Kedua belah pihak telah bertukar daftar GI yang akan langsung dilindungi oleh CEPA UE-Indonesia, setelah negosiasi selesai.”

Topik IEU-CEPA ini juga dibahas dalam pertemuan antara Wakil Menteri Perdagangan dan HE Vincent Piket malam ini. “Baik Indonesia dan UE meyakinkan bahwa dokumen kami telah ditandatangani secara elektronik menggunakan sertifikat elektronik yang telah diterbitkan oleh Balai Sertifikasi Elektronik. Ini adalah komitmen kami untuk mempercepat upaya kami untuk menyelesaikan negosiasi IEU-CEPA sesegera mungkin. Salah satu manfaatnya adalah perlindungan dan pengakuan terhadap berbagai IG dalam negeri kita,” kata Wamenkeu Sambuaga usai pertemuan.

Untuk meningkatkan ekspor Indonesia, Kemendag telah melakukan berbagai langkah dan strategi, melalui : 1) Meningkatkan daya saing dan pengembangan produk/desain ekspor melalui Klinik dan Desain Produk Ekspor, bekerjasama dengan desainer, dan Indonesia Design Development Center (IDDC);2 ) Memperkuat standar produk dan persyaratan internasional untuk meningkatkan akses pasar global melalui fasilitasi sertifikasi HACCP, GMP, Halal, Organik dan Hak Kekayaan Intelektual (paten, merek, indikasi geografis, dan desain industri) dan 3) Pelatihan bagi calon eksportir baru khususnya UKM melalui program Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI).

Tentang kopi Gayo dan ekspor kopi Indonesia
Kopi Gayo merupakan salah satu kopi Indikasi Geografis (IG) yang cita rasa dan kekhasannya sudah dikenal dunia. Pada tahun 2017, dengan bantuan teknis dari Fasilitas Kerjasama Perdagangan EUIndonesia (TCF, 2011-2016) kopi Gayo mendapatkan status Indikasi Geografis Terlindungi (PGI) di Uni Eropa. Kerja sama bilateral untuk mempromosikan dan meningkatkan branding kopi Gayo kini berlanjut melalui program ARISE+ Indonesia senilai 15 juta euro (2019-2023). Selain kopi Aceh Gayo, program ini memberikan bantuan teknis peningkatan kapasitas dan branding kopi Arabika Bali Kintamani, kayu manis Koerintji (Jambi), gula merah Kulon Progo (Yogyakarta), lada putih Luwu Timur (Sulawesi Tenggara), madu Sumbawa (Barat). Nusa Tenggara) dan garam Amed (Bali).

Kopi Gayo memiliki potensi besar untuk meningkatkan kontribusinya terhadap ekspor kopi Indonesia, terutama ke pasar utama seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Pada tahun 2019, ekspor kopi Indonesia tercatat sebesar USD 883 juta, meningkat 8% dibandingkan tahun sebelumnya (USD 815 juta). Namun demikian, ekspor kopi Indonesia masih mengalami tren penurunan yang signifikan sebesar 7,9% selama periode 2015-2019. Meningkatkan kerjasama semua pihak akan menjadi solusi untuk membalikkan tren peningkatan ekspor kopi Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Ari Satria
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan
E-mail: pusathumas@kemendag.go.id
Gd. I Lt. 2, Jl. M.I. Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110
Telp: 021-3860371/Fax: 021-3508711
www.kemendag.go.id

Marolop Nainggolan
Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor
Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional
Kementerian Perdagangan
Email: marolop.nainggolan@kemendag.go.id

ARISE+ Indonesia Project Office
Mr Marc Kwai Pun (Team Leader)
E-mail: marc.kwaipun@cardno.com

Berita Terkait